"Terima kasih, tapi punai-punai itu punya Tuhan. Mereka ada di langit, tak bisa kau berikan padaku"

A Ling mengucapkanya dengan tabah dan murung hati, meski burung punai adalah pelipur lara di hari ulang tahunya. Sepotong kalimat itu, cukup menampakkan, betapa punai telah menjadi tanda, pelipur, ketulusan dan kegigihan.

Semua hal itu dikemas dengan cantik dalam novel dwilogi karya Andrea Hirata- Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas.

Lain lagi penggambaran punai dalam Reset Indonesia yang ditulis oleh Dhandhy Laksono DKK. Citra punai menjadi sebuah kematian 2 sektor ekonomi kerakyaatan; Pertanian dan Kelautan. "...Kita seperti mengharap burung terbang tinggi, tetapi punai dilepaskan. Burung punai bukan cuma dilepas, melainkan dibunuh.

Kalimat bertanda kutip di atas, menjadi penutup yang magis dan manis. Untuk tulisan "Membunuh Punai di Tangan" dalam buku Reset Indonesia.

Dengan text di kedua buku tadi, imajinasi saya sedikit meletup perihal seekor burung punai. Lalu kemarin (27 April 2026), Hutrop (Hutan Tropis) kembali berkicau lewat Punai dan Pelangi, di saat yang sama, judul Nande juga dilepas. Punai dan Pelangi membuat saya tersenyum, setelah track Semoga yang Hutrop sebar 2 tahun lalu, berhasil menjadi doa, gumam dan teriakkan bagi saya.

2 tahun, cukup panjang, sebagai jeda dari Hutrop untuk pendengar. Hingga Punai dan Pelangi membayar jeda, atau keheningan yang nikmat itu.

Punai dan Pelangi, sebuah judul yang menjadi teka-teki kecil; kenapa punai yang terpilih dari sekian banyak burung cantik? Mengapa pelangi dari sekian banyak keajaiban di angkasa?

"Punai menjadi burung yang sering terlihat di kampung saya ketika kecil, pelangi adalah corak sayap pada burung punai. Pernah ada moment, punai itu terbang, lalu sayapnya seakan-akan menyatu dengan pelangi". Jawaban kecil untuk tanda tanya besar tadi, diutarakan oleh Jimmy Delvian, vokalis Hutan Tropis, dalam sebuah obroan kecil di sela acara nobar Pesta Babi.

Perihal ini sangat menarik, mirip Sweet Child o Mine karya Guns N Roses yang juga melumat moment masa kecil menjadi sebuah lagu.

Mauriche Halbwachs, dalam kajiannya tentang memori kolektif. Ia meyakini jika memori kolektif adalah sebuah identitas seseorang. Hubungannya akan sangat erat, dengan tradisi, hal-hal yang bersifat emosional, kelompok dan lingkungan.

Dalam lagu Punai dan Pelangi, sebutir punai dan pelangi, dalam kesadaran kolektif Jimmy, dan kealpaanya sekarang, telah berhasil mematik punai kembali mengudara dan pelangi terang merona dengan caranya.

Menurut pembacaan polos saya, burung punai, baik dalam karya Andrea Hirata, maupun dalam Reset Indonesia, hingga Punai dan Pelangi buah Hutrop. Telah meletakkan punai tak hanya sebagai barang dalam etalase saja. Lebih jauh, mereka membicarakan punai sebagai sesuatu yang pernah hadir, harus hadir bahkan tak lagi hadir.

Meski tetap bersama hati kita yang kian pupus. Jimmy Delvian, Tyo Ahmad, Opan Arian, Ari "Ojak" Pratama dan Herwin Meidison, telah bertutur apa yang punai ceritakan tentang ribuan harap dan rimbunan daun, yang kita ingin dengar selalu.

Kalo boleh rating.

100 tak cukup, 3500 untuk lagu ini!